Monday, February 25, 2013

Kambing Hitam

Terbangun di pagi hari, kesekian kalinya dengan perasaan galau. Tapi ini bukan tentang galau masalah perasaan, melainkan galau apakah domain saya akan diperpanjang atau tidak? Kalau saya tidak perpanjang, bisa dan pasti akan ada orang lain yang akan mengambilnya, kemudian akan dijual lagi dengan harga yang jauh lebih gila dari sebelumnya. Terdengar mirip calo memang, tapi itulah adanya. Well, bukan itu yang mau saya tulis disini, biarlah perihal domain mengikuti angin saja, :))

Ini bukan apa-apa, hanya untuk menumpahkan tanda tanya di kepala saja. Sudah sejak lama, saya menyukai acara yang berbau martial art, apapun jenisnya entah tinju, UFC, ataupun gulat (baca : WWE). Tapi cukup mengenaskan keberadaan acara tersebut.

Mungkin masih banyak yang ingat, dalam kurun waktu beberapa tahun ke belakang sekitar akhir tahun 90an sampai awal 2000an, saat WWE masih ditayangkan di salah satu stasiun TV swasta di Indonesia yang peminatnya bisa dikatakan cukup banyak. Saat itu juga, marak terjadi insiden di negara ini, tentang jatuhnya korban jiwa atau luka-luka yang dialami anak-anak karena katanya menirukan adegan gulat di WWE.

Yaa bukan karena saya seorang WWE Fans, tapi sebagai pengamat saja, apapun konten acaranya, sangat disayangkan penarikan hak siar WWE dari Indonesia beberapa tahun yang lalu. Kenapa? Jelas karena dari pihak WWE sudah menegaskan secara detail bahwa program mereka butuh dampingan orang tua, bisa disimak di WWE Corporate . Nah masih ada dalam bahasa Indonesia kan? Sedangkan tayangannya sendiri sudah punah disini.

Belum lagi di salah satu halaman, saya tidak tahu kapan tanggal postingnya tapi tertulis :


Staged Protest In Indonesia

Despite the fact that authorities have said the death of a nine-year-old boy in Indonesia had nothing to do with WWE®, local activists are still trying to fuel the fire by staging what is clearly seen as a contrived protest. In fact, AP posted a photo of a "protest" on-line.

Here are the facts as we know them:
The father of the boy claimed that three 15-year-old boys beat up his nine- year-old son in mid-October practicing wrestling moves they saw on TV. 
Yet it took the father a week after the incident occurred before he sought medical care for his son. The boy died one month later from causes not yet identified.

The police noted an autopsy was forbidden by the child's family for religious reasons. As a result the police have indicated in the media that because there is no permission to conduct the autopsy, they are seeking the child's medical records from the hospital. The police are continuing their investigation into the actual cause.
WWE continues to monitor the situation.

Artinya...?? Pihak mereka pun beritikad baik.

Pada intinya, disini saya bukan dalam posisi WWE Fans tapi hanya ingin mendorong saja bahwa peran aktif para orang tua sangat PENTING. Amerika saja tidak ada kasus atau setidaknya sangat minim insiden kekerasan yang "mengatasnamakan" WWE, karena mereka SADAR perannya. Bahkan jika ingin melihat dengan lebih luas, WWE tidak hanya soal match di atas ring, tapi banyak program sosial juga, inilah yang perlu dicontoh program sosial.

Sekali lagi, jangan lagi menunjukkan kebodohan dengan mengkambinghitamkan sesuatu. Berperan aktif secara SADAR jauh lebih PENTING. Bisa jadi saat ini WWE tidak ada, tapi masih banyak tayangan yang marak merusak moral dan tak pantas untuk anak-anak, kan??

Terakhir, jika kemudian terjadi lagi kasus "cedera pada anak-anak", masihkah meng-kambing hitamkan WWE?? :)



Please, Known Your Role...!!!

18 comments:

  1. kayaknya fan banget sama wwe.
    Tapi iya benaran,,aksi ganas diluar itu bukan juga semua dari wwe..
    itu semua dari diri-sendirilah...

    kasihan wwe.. wwf wwg wwj

    iya kalau di malaysia.. tayangan wwe mengikut peringkat umur

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah di Malaysia ada WWE?? Pindah ah, :))

      Delete
  2. Ya kita semua bertanggung jawab sih sob,
    1. Pembuat acara : acara gak bermanfaat gak usah diproduksi
    2. TV : acara kayak gitu yo mending gak usah ditayangin
    3. Orang tua : mendidik anak yang bener
    4. Kita : mengingatkan untuk memilih sesuatu yang baik (seperti posting ini)
    5. Anak anak : ya,,,,diharapkan bisa menuruti ortunya untuk melihat tontonan yang baik saja

    hhhhhrrruuuu

    ReplyDelete
  3. aslinya, hal anak, yang salah ya ortu..............

    ReplyDelete
  4. hahaha, sungguh tidak adil kerana wwe itu di kambing hitam-kan
    ia emangnya itu terpulang pada mereka yang menontonnya, kan?kan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa cik, kembali pada penonton masing2.

      Delete
  5. Wah ini ceritanya protes ya, memang semua kembali pada individu masing², tapi apakah cocok acara koyok ngunu di setel di Indonesia Cak ?? hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak protes,, cuma MEMBUKA MATA saja, :p

      Delete
  6. Ga suka gulat2an...lebih suka martial art nya yang seperti kyk karate, kungfu, dll...

    ReplyDelete
  7. bang, wwe apaan? ane baru tau tuh..
    visit back ya

    ReplyDelete
  8. leg kamu ikutan wwe kayak e ndak pentes deh mas, tapi kaalu kayak mbeknya mrip deh jenggotan, hahahahah #ngilang :p

    ReplyDelete
  9. kalo menurut saya, peran orang tua yang paling penting :)

    ReplyDelete
  10. Sebetulnya itu menjadi kambing hitam karena gulat itu keren.
    Coba kalau nggak keren, pasti nggak ada yang meniru.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...