Friday, April 19, 2013

Persepsi dan Hidup

"The Map is not Teritory (Peta bukanlah wilayah)"

Sebuah asumsi dasar dalam NLP, yang sering kali terdengar akrab oleh telinga para penikmat, pembelajar dan praktisi NLP. Sebuah asumsi yang paling dasar menurut saya, sebelum melangkah ke berbagai asumsi lainnya. Awalnya memang agak susah mencerna makna dibalik kalimat asumsi tersebut, bagaimana mendapat jawaban bila enggan bertanya?

Sampailah pada sebuah pertanyaan sederhana "Apa maksud dari PETA BUKANLAH WILAYAH?"

Jika peta diibaratkan sebagai persepsi dan wilayah adalah hidup kita. Erat kaitan antara keduanya, manusia dibekali oleh Allah sebuah mukjizat berupa "Otak" yang didalamnya terdapat jutaan sel syaraf dan sebagainya, yang mampu menghasilkan sebuah ide, ataupun persepsi. Berarti, ini menekankan bahwa persepsi tidaklah sama dengan kenyataan. Persepsi berada dalam internal diri kita, sedang hidup tentu sebuah eksternal diluar diri.

Sebuah kejadian dalam hidup tentu akan masuk ke dalam otak manusia (dipersepsikan) secara berbeda sesuai dengan pengalamannya, sebagai contoh tengoklah sebuah pertandingan sepakbola dimana ketika terjadi offside, tidak semua orang berpendapat sama karena berbagai faktor informasi, yang mungkin berupa pengetahuan akan sepakbola itu, atau posisi duduk yang terhalang, bisa saja kan?

Saat kita mengubah persepsi maka hidup pun berubah, saya pun sadar hidup ini penuh dengan tantangan dengan dampak yang berbeda bagi setiap individu. Kadang kita merasa frustasi, stress, depresi atau bahkan nyaris gila? Bahkan mungkin terpikir untuk mengakhiri hidup, lantas kita tersadar bahwa ada hikmah dan berkah yang bisa diambil dari setiap kejadian. Yaa, dengan mengubah persepsi dari suatu kejadian niscaya hasil sebaliknya yang didapat.

Sumber Gambar : Perception Pyramid
 
 Persepsi mempengaruhi sikap dan tindakan kita, mari bermain :

Bagi laki-laki, bayangkan di pikiran Anda saat ini juga, ada seorang cewek yang sangat cantik (menurut "selera" masing-masing) yang Anda taksir. Jika Anda bukan MAHO, pastinya cewek itu berputar-putar dan terbayang dalam pikiran, bukan??

Sekarang, dengan objek yang masih sama, cewek cantik tadi kita ubah. Bayangkan cewek tersebut doyan ngupil, meludah sembarangan, kepalanya plontos, sehingga tidak cantik lagi. Nah, perasaan Anda tentu berubah seiring berubahnya persepsi kita akan suatu objek tententu.

***

Well, berhati-hatilah dengan persepsi diri, pilihlah yang positif saja. Saat menemukan kesulitan, tanya pada diri, "bisakah kita memaknai lain?" #NoteToMySelf

Sekian saja, (mungkin) akan ada kelanjutannya... Terimakasih sudah bersedia membaca.

***


@GANDIFAUZI | 2013 - Sedang menantang diri untuk lebih nekat (berani)!! :))

12 comments:

  1. asal jangan Bonek aja mister gandi..hehe

    ReplyDelete
  2. yup.. mari membangun persepsi positif. Setuju sekali dengan tulisan ini.

    ReplyDelete
  3. Oh, itu maksudnya... Baru ngerti lho, padahal dari postinganmu sebelumnya saya pernah nemu kata-kata itu.

    ReplyDelete
  4. Segitiga piramida, teorinya sama kayak postingan desaku :D

    ReplyDelete
  5. Ini mengingatkan saya pada zaman sekolah dulu tapi tapi smpe sekarang masih saja di bawa bawa -_-

    ReplyDelete
  6. hmmm hmmmm...
    rasanya pernah dengar ini pas kelas psikologi tapi nggak ngerti.

    sekarang baru ngerti
    hihihi

    ReplyDelete
  7. Oh, ini tulisan yang wajib saya baca yah? Hehehe.

    Setiap persepsi memunculkan hipotesis yang kadang tak sama. Ada baiknya persepsi itu dipadukan dengan fakta, pemikiran, dan kata hati kita. Bukan hanya persepsi yang dikedepankan.

    ==>Yaa, dengan mengubah persepsi dari suatu kejadian niscaya hasil sebaliknya yang didapat.

    (Kata didapat mengesankan kita tak pernah berupaya sebelumnya. Mungkin kalimat ini akan menjadi kalimat positif yang membangun dengan membenarkan kata terakhir sebagai sebuah perbuatan, dengan menulis 'kita dapat'. Kata ini lebih mengindikasikan kita telah berbuat sesuatu dan menghasilkan sesuatu yang lain, yang lebih besar.)

    Kita juga bisa menambahkan kalimat positif pada akhir paragraf sehingga kalimat ini tidak rancu. Misalnya: ..... Yaa, dengan mengubah persepsi dari suatu kejadian, niscaya hasil sebaliknya yang didapat.==> Hasil sebaliknya dari apa? Tulisan ini perlu kita jelaskan kembali. Misal, bisa menjadi: Ya, dengan mengubah persepsi dari suatu kejadian yang kita alami, baik negatif atau positif, niscaya kita akan mendapat hasil yang positif, dan berbuah hikmah. Kita pun jadi tahu, tidak setiap persepsi yang kita punya, merupakan kebenaran mutlak atas sesuatu yang kita yakini sebelumnya. Tapi setidaknya kita mengerti, hati dan fikiran kita sudah mulai peka untuk menilai seseorang dari persepsi yang kita miliki.

    Untuk paragraf kedua sebelum terakhir: Well, berhati-hatilah dengan persepsi diri, pilihlah yang positif saja. Saat menemukan kesulitan, tanya pada diri, "bisakah kita memaknai lain?" #NoteToMySelf

    ==> Tulisan asing sebaiknya memakai huruf miring, sehingga bisa dibedakan mana Bahasa Indonesia, mana bahasa asing.

    ==> Untuk kalimat, 'Saat menemukan kesulitan, tanya pada diri, "bisakah kita memaknai lain?" #NoteToMySelf'==> Sebaiknya bukan memaknai lain, tapi, 'bisakah mengatasi dengan cara positif dan baik?'


    *Catatan ini murni saran dan masukan dari saya. Mohon maaf kalau kepanjangan. Tulisan ini berpotensi menjadi artikel bagus. Silahkan olah lagi menjasi karya yang layak dibaca masyarakat umum dalam bentuk buku, atau yang lain. Semangat menulis. Sama sama belajar yuk!^^ Tolong, koreksi dan kritik juga tulisan saya. Karena kritik akan membuat kita menjadi manusia yang lebih baik. Yakusa, Gandi:))

    ReplyDelete
  8. yisha pening baca ini...........
    *perasaan, gandi bilang, blog ini ngga bakal bikin yisha pening deh..........

    ReplyDelete
  9. kak gandii...
    website gandifauzinya expired yah? wkwk aku buka ada tulisan expired. kok gak diperpanjang tuh? :D

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...